Salah satu hal yang paling dikhawatirkan seseorang ketika usianya mulai menua adalah menjadi pikun dan sulit mengingat memori baru. Demensia atau kepikunan, dewasa ini bukan hanya terjadi pada usia lanjut, namun juga usia muda. Seseorang yang mengalami demen"> Selamatkan otak, peduli gangguan demensia/alzheimer (PIKUN) - Pusat Analisis Determinan Dan Kesehatan - Pusat Analisis Determinan Dan Kesehatan

Selamatkan otak, peduli gangguan demensia/alzheimer (PIKUN)

Posted on : 28 Feb 2014 14:24:00 Dibaca sebanyak : 1168 kali

Salah satu hal yang paling dikhawatirkan seseorang ketika usianya mulai menua adalah menjadi pikun dan sulit mengingat memori baru. Demensia atau kepikunan, dewasa ini bukan hanya terjadi pada usia lanjut, namun juga usia muda. Seseorang yang mengalami demensia, akan terjadi penurunan fungsi intelektual yang menyebabkan deteriorasi (kemunduran) kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, oleh karena itu aktivitas sosialnya juga akan terganggu. Orang dengan demensia juga akan kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menjaga emosi.

Kepedulian terhadap Alzheimer dimulai dari Konferensi Alzheimer's Disease International (ADI) di Edinburgh pada tahun 1994 dengan mencanangkan tanggal 21 september sebagai hari Alzheimer sedunia. Pencanangan ini sebagai bentuk dukungan pada perkumpulan Alzheimer baik nasional maupun local dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya penanganan yang serius terhadap gangguan Alzheimer, dengan pendekatan pada pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan masyarakat agar mampu menghilangkan paradigma yang salah mengenai Alzheimer yang beredar saat ini. Pada tahun 2004, Alzheimer’s Disease International telah menyepakati sebuah deklarasi yang berisi 10 rekomendasi tentang kebutuhan aksi minimal untuk perawatan orang dengan demensia yang dihasilkan di Kyoto Jepang dan dikenal dengan Kyoto Declaration.

Pada tahun 2012, WHO dan Alzheimer‘s Disease International (ADI) melaporkan di seluruh dunia diperkirakan 35,6 juta orang hidup dengan Demensia. Jumlah ini diperkirakan menjadi dua kali pada tahun 2030 dan tiga kali atau sekitar 115 juta orang pada tahun 2050. Biaya global untuk demensia ini diperkirakan sebesar 604 USD per tahunnya. Atas dasar laporan ini, WHO dan ADI menghimbau semua Negara untuk meningkatkan kesadaran bahwa demesia saat ini merupakan “prioritas kesehatan masyarakat”, untuk itu diperlukan advokasi “pendekatan kesehatan masyarakat” sebagai upaya untuk mengatasi masalah demensia ini dengan memberikan prioritas pada penguatan Negara mempersiapkan kesiapsiagaan terhadap demensia, mengembangkan sIstem kesehatan dan sosial, dukungan bagi perawatan informal dan caregiver serta meningkatkan kesadaran dan advokasi terhadap masalah demensia.

WHO memperkirakan jumlah kasus Alzheimer di Indonesia berjumlah 1 juta orang pada tahun 2011, namun kondisi ini dapat terus bertambah seiring berjalannya waktu serta makin meningkatnya umur harapan hidup masyarakat Indonesia. Jumlah ini juga seperti fenomena gunung es, banyak masyarakat yang tidak melaporkan kondisinya karena ketidaktahuan bahwa Alzheimer atau Demensia adalah penyakit. Kurangnya informasi mengenai tanda, gejala dan penanganan Alzheimer di Indonesia masih sangat memprihatin. Pelayanan kesehatan untuk orang dengan demensia ini hanya terbatas pada pelayanan kesehatan rujukan yang ditangani oleh dokter spesialis, sementara pelayanan primer masih belum memiliki kemampuan untuk melakukan upaya penanganan masalah demensia ini.

Faktor Risiko Demensia/Alzheimer

Saat ini dikenal ada dua jenis demensia  yakni demensia vaskuler dan non vaskuler. Demensia vaskuler yang disebut sebagai Alzheimer merupakan kepikunan yang disebabkan adanya sumbatan di pembuluh darah otak. Dan diperkirakan 75 persen demensia vaskuler (Alzheimer) disebabkan oleh stroke sumbatan. Sumbatan tersebut bisa total dan bisa sebagian. Kalau sumbatannya sedikit maka orang dengan demensia kadang-kadang berperilaku baik dan kadang-kadang perasaan dan perilakunya jelek.  Kalau daerah yang tersumbat di bagian otak yang berhubungan dengan memori, budaya, bicara, etika, moral, maka fungsi yang berhubungan dengan ingatan, budaya, bicara, etika, moral ini akan terganggu atau tidak berfungsi. Stroke sumbatan ini panyebab paling banyak adalah hipertensi, kolesterol, diabetes mellitus, asam urat tinggi, kurangminum, kurang olah raga. Sedangkan demensia non vaskuler disebabkan oleh  tumor otak, kanker otak, kekurangan vitamin, mineral, antioksidan, karena kebanyakan mengonsumsi alkohol, karena infeksi meningitis, encephalitis, pikiran kecewa, depresi dan obat-obatan. Beberapa yang berisiko terkena Alzheimer adalah orang lanjut usia (lebih dari 60 tahun), punya riwayat keluarga terkena Alzheimer, penderita stroke, gangguan jantung, diabetes, dan cedera kepala/otak.

 Tanda-tanda awal demensia/alzheimer (pikun)

Masyarakat perlu mengenali gejala awal demensia seperti mudah lupa, gangguan dalam berbahasa, disorientasi (waktu, tempat, orang), kesulitan mengambil keputusan, kemunduran (motivasi, inisiatif, minat), serta adanya tanda-tanda depresi. Jika penyakit demensia sudah parah maka akan terjadi ketergantungan pada orang lain dalam hal penderita mengalami sulit makan, tidak kenal anggota keluarga, sulit menahan buang air kecil dan besar, serta gangguan perilaku yang sangat berat. Ada 10 (sepuluh) tanda-tanda dini demensia/alzheimer yang dapat dikenali sebelum pikun menjadi tahap lanjut yakni:

  1. Penurunan daya ingat misalnya lupa nama, lupa tempat menaruh benda
  2. Kebingungan. Penderita penyakit Alzheimer dapat tersesat ketika keluar rumah sendirian dan kadang tidak dapat mengingat dimana dia atau bagaimana dia bisa sampai disana.
  3. Kesulitan melakukan tugas-tugas yang lazim
  4. Kesulitan mengerjakan kebiasaan sehari-hari, seperti makan, mandi, berpakaian, dll.
  5. Perubahan kepribadian dan perilaku penderita penyakit Alzheimer. Menjadi mudah marah, tersinggung, gelisah, atau jadi pendiam. Kadang-kadang, menjadi bingung, paranoid, atau ketakutan.
  6. Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk.
  7. Adanya masalah dengan bahasa dan komunikasi, seperti tidak dapat mengingat kata-kata, nama benda-benda, atau memahami arti kata-kata umum.
  8. Memburuknya kemampuan visual dan spasial, seperti menilai bentuk dan ukuran suatu benda.
  9. Kehilangan motivasi atau inisiatif.
  10. Kehilangan pola tidur normal.

 Upaya Menunda Demensia/Alzheimer

Masyarakat harus meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap gangguan Demensia/Alzheimer, menumbuhkan kesadaran akan bahaya Demensia/Alzheimer, melakukan penanganan yang tepat pada penderita Demensia, dan mempromosikan pola hidup sehat terutama bagi mereka yang berusia 40 tahun keatas. Untuk memperlambat timbulnya Demensia/Alzheimer maka beberapa hal dapat dilakukan yakni:

  1. Menurunkan/menjaga kadar kolesterol dalam darah
  2. Menurunkan/menjaga tekanan darah
  3. Mengendalikan diabetes
  4. Berolahraga secara teratur
  5. Terlibat dalam kegiatan yang merangsang pikiran
  6. Peningkatan kualitas hidup.
  7. Diet sehat dan gizi seimbang.

Selain itu disarankan beberapa diet berikut:

 Penanganan Dalam Keluarga

Orang dengan demensia akan mengalami kemunduran otak. Memori yang baru hilang, tetapi memori yang lama diingat, misalnya memori masa kecilnya. Penampilan orang dengan demensia bisa macam-macam, bisa menjadi agitasi atau marah-marah, mengumpat, melempar, mengamuk dan kadang bisa membunuh orang dan ada juga  yang diam.  Dimana orang demensia yang cenderung diam ini berbahaya. Oleh karena itu, orang dengan demensia harus dijaga jangan sampai berperasaan sedih. Orang dengan demensia tidak membutuhkan rasionalitas. Orang dengan demensia harus dibuat senang, dipuji bila melakukan tindakan yang baik. Dan diusahakan memanfaatkan yang masih bisa difungsikan pada dirinya misalnya dengan mengisi kegiatan yang bermanfaat seperti menyanyi, membaca atau membuat puisi, menggambar dan lain-lain sesuai kemampuan yang ada saat ini. Buatlah orang dengan demensia menjadi bermartabat dan orang yang mendampinginya (caregiver) harus tabah, sabar dan bisa mengerti agar orang dengan demensia tidak melakukan hal-hal yang berbahaya. Dalam penanganannya belum ada obat yang dapat menyembuhkan Demensia/Alzheimer, namun perlu mendapatkan perhatian yang serius dan komitmen semua pihak dalam membantu keberhasilan penanganan penyakit Demensia/Alzheimer. Beberapa  hal yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Pihak keluarga yang berperan dalam merawat pasien demensia, hendaknya menghindari perbedaan pendapat;
  2. Latihlah otak dengan permainan (interaksi sosial, pengembangan hobi);
  3. Pantau kesehatan secara berkala;
  4. Jauhi sikap (mengkritik, komentar negatif, berdebat, memaksa keinginan);
  5. Merawat pasien demensia hendaknya memiliki sikap tenang dan memaklumi;
  6. Berilah penghargaan dan pujian;
  7. Perlakukan penderita demensia sebagai orang dewasa terbatas bukan sebagai anak kecil;
  8. Berilah kegiatan yang bersifat rekreatif, humor dan menyenangkan;
  9. Ciptakan lingkungan yang nyaman (tidak bising, penerangan cukup, lingkungan yang bersahabat).

Selain itu, konseling intensif bagi anggota keluarga dan caregiver sangat diperlukan untuk mengatasi stress bagi penderita dan keluarga serta mencari solusi atas masalah-masalah yang dihadapi.

Kerugian Ekonomi Akibat Demensia/Alzheimer

Sebagaimana kita ketahui orang dengan Demensia/Alzheimer akan mengalami gangguan dalam beberapa hal seperti telah disebutkan diatas. Oleh karena itu dalam kehidupannya sehari-hari orang dengan Demensia/Alzheimer tidak mampu menjalan-kan aktifitas ekonominya secara maksimal bahkan tidak mampu sama sekali. Hal ini akan menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan untuk penderita sendiri maupun keluarganya. Penderita sendiri tidak mampu bekerja sehingga tidak mempunyai pengha-silan dan penghidupannya tergantung kepada orang disekitarnya terutama keluarganya, sedangkan keluarganya akan mengalami keru-gian ekonomi karena harus mengeluar biaya caregiver atau perawat atau bahkan keluarga-nya sendiri yang akan berhenti bekerja untuk menjaga orang dengan demensia. Kerugian ekonomi yang timbul diakibatkan hilangnya penghasilan bagi orang dengan demensia itu sendiri dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengurus orang dengan demensia meliputi biaya obat-obatan dan pendamping-nya (caregiver). Dan apabila pendampingnya adalah anggota keluarganya maka kerugian ekonomi yang timbul berupa hilangnya penghasilan dari anggota keluarga yang berubah fungsi dari pekerja menjadi caregiver.

Sedangkan menurut laporan Alzheimers Disease International pada tahun 2010, diperkirakan biaya perawatan penderita Alzheimer dan Demensia di Asia Tenggara mencapai US$4 miliar, mencakup biaya obat-obatan dan fasilitas sosial yang dibutuhkan untuk mendukung penderita Demensia/Alzheimer.

ARSIP TULISAN
LINK WEB TERKAIT
VIDEO