Hak Kecerdasan Generasi

Posted on : 25 Feb 2014 12:12:00 Dibaca sebanyak : 556 kali

Ada janji Yang Maha Kuasa disampaikan pada kita semua "Tuhan tidak akan pernah merubah nasib suatu bangsa/orang kecuali jika bangsa/orang tsb berniat dengan yakin merubah nasibnya". Mari kita membangun untuk menetapkan pola pikir tentang Inteligensia dan Kesehatan, yang diungkap oleh ilmuwan Jepang Satoshi Kanazawa 2012 (gambar pertama) yaitu tentang budaya. Hasil penelitiannya dengan konsep pola-pikir ini menunjukan bahwa diukur dari segi IQ maka banggsa Yahudi dapat point teratas, namun apabila mengukur kombinasi antara IQ dan EQ maka bangsa Cina paling unggul, "tuntutlah ilmu ke negeri cina"(sesuai hadit's Nabi SAW). Oleh karena itu mari kita sebagai bangsa Indonesia segera merubah nasib untuk melepaskan diri dari keterpurukan dengan menerapkan konsep pembangunan berbasis hak kecerdasan dan kesehatan bagi semua(gambar kedua) dengan melakukan 4 hal prinsip, yaitu, pertama, berperilakulah dengan reproduksi sehat dalam keluarga pada usia 23-33 tahun bagi wanita dg jarak lahir ke hamil berikutnya 4 tahun, kedua, makanlah gizi seimbang yang komponen mikronya mengandung zat2, seperti; asam amino, folat, Fe, Ca, Zn, dll penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak, ketiga, hindarilah dari pencemaran lingkungan seperti;  keracunan logam berat berupa limbah Pb dari gas buang premium atau dari daur ulang accu yang mengganggu perkembangan inteligensia, CO, asap rokok,dll dan keempat, lakukan stimulasi/pendidikan dengan pola asih(kasihsayang), asuh(perlindungan gizi & imunisasi) serta asah(pembelajaran kognisi skill's sesuai dengan tahapan perkembangan). Kalau tidak demikian kita akan terus terpuruk, terbukti dari hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 yang menunjukan kelahiran dengan prematuritas dan berat badan lahir rendah sebesar 10,2% per tahun dari 4,5 juta kelahiran hidup (Riskesdas 2013) yang kemungkinan besar berisiko disabilitas inteligensia yang menghabiskan biaya kesehatan 33,2 juta per bayi. Dengan demikian artinya setiap tahun dapat dipastikan terjadi kerugian ekonomi akibat risiko disabilitas inteligensia yang kalau dihitung seluruhnya mencapai Rp 15,9 trilyun per tahun (gambar ketiga). Jadi dapat dipastikan pemberlakuan UU no 24 / 2011 tentang asuransi JKN sejak 2014 ini sudah pasti terbebani biaya pelayanan kesehatan akibat risiko disabilitas inteligensia yang demikian besarnya per tahun. Oleh karena itu ke depan kita harus berubah dalam family planning, gizi seimbang, atasi polusi lingkungan dan lakukan pendidikan asih, asuh & asah untuk meraih sebagai bangsa yang cerdas, bermartabat, maju dan di segani. Selamat berjuang bangsa ku......semoga jaya.

ARSIP TULISAN
LINK WEB TERKAIT
VIDEO