Berperan Strategis, Bidan Harus Profesional

19 Juli 2017

Peran bidan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan obyek di tengah masyarakat.

''Bidan diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme agar mampu memberikan pelayanan sesuai standar profesi dan kewenangan, selain itu memperkuat eksistensi pelayanan kesehatan primer melalui optimalisasi pelayanan Kebidanan,'' kata Menkes Prof. dr. Nila Moeloek, Sp.M(K) dalam Peringatan HUT Ikatan Bidan Indonesia ke-66 dan Hari Bidan Internasional di Jakarta, Rabu (19/7).

Optimalisasi peran bidan menjadi perhatian Menkes karena laporan rutin kesehatan ibu periode 2010-2015 mencatat ada 9 provinsi menempati posisi teratas dengan jumlah kematian ibu terbanyak, yakni Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur.

Penyebab kematian ibu terbanyak adalah hipertensi, perdarahan, gangguan sistem peredaran darah, dan infeksi. Sementara, provinsi dengan jumlah kematian neonatus (masa sejak lahir hingga 28 hari) terbanyak di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan Utara.

Penyebabnya didominasi asfiksia/denyut nadi dan nafas mendadak berhenti (6.129 kasus), Berat Bayi Lahir Rendah/BBLR (9.249 kasus), kelainan bawaan (2.421 kasus), sepsis/peradangan akibat infeksi (1.514 kasus) dan penyebab lain (5.088 kasus).

Kesemuanya ini, imbuh Menkes, dapat dicegah apabila ada pengetahuan yang cukup pada ibu dan keluarganya. ''Hal ini perlu mendapat perhatian kita bersama agar ke depan tidak terjadi lagi,'' kata Menkes.

Menkes pun meyakini, semua kondisi tersebut bakal teratasi jika bidan terlibat dalam upaya Penurunan Prevalensi Balita Pendek (Stunting).

Upaya ini harus dilaksanakan sejak ibu hamil dan bersalin, di antaranya dengan intervensi 1.000 hari pertama kehidupan anak, jaminan mutu ANC terpadu, meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan, penyelenggara program pemberian makanan tinggi kalori, protein, dan mikronutrien (TKPM) serta pemberantasan kecacingan.

Sedangkan intervensi bidan terhadap balita dengan cara pemantauan pertumbuhan, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan simulasi dini perkembangan anak.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat,Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567,SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

 
Tags: Kegiatan Kementerian Kesehatan,
Responsive image
Responsive image

5 Prioritas Bidang Kesehatan dalam…

Tema kesehatan menjadi satu dari tiga tema besar…

Responsive image

Cuci Tangan Pakai Sabun Cegah…

Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan…

Responsive image

Rancangan Strategis Kemenkes 2020-2024

Pertemuan Penguatan Program Kesehatan Pusat dan…

Responsive image

Kemenkes Optimalkan PSN Cegah…

Memperingati Asean Dangue Day (ADD) 2017 15…

Responsive image

Pelantikan Jabatan Struktural…

20 Januari 2016   KEPUTUSAN…

Responsive image

UPDATE DATA CORONA 7 APRIL 2020…

UPDATE DATA CORONA 7 APRIL 2020 di Indonesia, tetap…

Responsive image

Tetapkan PSBB Jakarta, Ini Penjelasan…

Menteri Kesehatan menetapkan Pembatasan Sosial…

Responsive image

DKI Jakarta Terapkan PSBB

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera menerapkan…

Responsive image

PSBB

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengumumkan…

Responsive image

PRESIDEN Jokowi Resmikan Wisma…

Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan meresmikan…