MAGNESIUM

  1. Magnesium Untuk Obat dan Kesehatan

Magnesium adalah salah satu dari enam mineral penting yang terkandung dalam tubuh manusia. Magnesium membantu membangun tulang, memperbaiki penampilan fungsi saraf, dan merupakan elemen yang sangat penting untuk penghasil energy dari makanan yang di asup oleh manusia.

Magnesium secara alami ditemukan dalam banyak makanan, ditambahkan ke produk makanan lainnya, tersedia sebagai suplemen diet, dan hadir di beberapa jenis obat-obatan (obat penyakit maag dan obat pencahar). Magnesium adalah kofaktor dalam lebih dari 300 sistem enzim yang mengatur reaksi biokimia yang beragam dalam tubuh, termasuk sintesis protein, untuk otot dan fungsi saraf, mengatur kadar glukosa darah, dan regulasi tekanan darah.

Magnesium diperlukan untuk produksi energi, fosforilasi oksidatif, dan glikolisis. Zat ini memberikan kontribusi untuk perkembangan struktur tulang dan diperlukan untuk sintesis DNA, RNA, dan glutathione antioksidan. Magnesium juga berperan dalam transpor aktif ion kalsium dan kalium melintasi membran sel, sebuah proses yang penting untuk konduksi saraf impuls, kontraksi otot, dan normalisasi irama jantung.

Magnesium telah terbukti mampu mengobati berbagai jenis sakit kepala, nyeri kronis, asma, dan gangguan tidur. Dalam beberapa penelitian skala besar, magnesium juga terbukti mampu mempercepat mengobati penyakit jantung, hipertensi, diabetes,  dikarenakan Magnesium merupakan unsur nomor 4 penting dalam penyusunan tubuh, nomor 1. Protein;  2. Karbohidrat; 3. Air;  4. Magnesium, kekurang salah satu unsur diatas maka metabolisme akan terganggu yang berakibat akan terserang penyakit.

Hingga saat ini ratusan penelitian tentang manfaat senyawa magnesium terhadap kesehatan manusia telah dipublikasikan di seluruh dunia. Artikel ini mengulas berbagai penggunaan magnesium untuk pemeliharaan kesehatan, dan aplikasi therapy pengobatan berbagai penyakit yang dilakukan menggunakan senyawa magnesium klorida.

I.1. Gejala Kekurangan Magnesium

Gejala kekurangan magnesium terjadi akibat kurangnya kandungan magnesium dalam asupan makanan seseorang. Gejala kekurangan magnesium juga terjadi pada pengguna atau orang yang mengalami ketergantungan alcohol, orang yang sedang dalam proses pengobatan atas suatu penyakit, dan pola hidup yang membiasakan konsumsi makanan instant dan fast food.

Tanda-tanda awal kekurangan magnesium antara lain ; hilangnya nafsu makan, mual, muntah, mudah mengalami kelelahan, lemah, kadar gula tinggi, kadar kolesterol tinggi, sering tegang di pundak dan tengkuk. Gejala yang lebih buruk lagi dapat menyebabkan mati rasa, kesemutan, kontraksi otot dan kram, kejang, perubahan kepribadian, irama jantung yang abnormal, dan kejang koroner. Kekurangan magnesium parah dapat menyebabkan hipokalsemia atau hipokalemia (kadar serum kalsium dan atau kalium yang rendah) yang disebabkan terganggunya homeostasis mineral.

 

I.2. Magnesium Untuk Pemeliharaan Kesehatan

Sebagaimana pentingnya peran magnesium pada tumbuhan (khususnya merupakan bagian utama dari struktur kimia klorofil), maka peran magnesium juga sangat penting bagi manusia dan hewan. Tanpa kehadiran magnesium dalam tubuh, energi tidak dapat diproduksi atau digunakan dalam sel, otot tidak bisa rileks dan berkontraksi, dan hormon-hormon utama tidak bisa disintesa untuk membantu mengendalikan fungsi-fungsi vital dari bagian-bagian tubuh.

Berdasarkan ratusan penelitian yang telah dilakukan selama lebih dari 150 tahun, magnesium terbukti membantu menjaga otot dan fungsi saraf berjalan normal, menstabilkan irama detak jantung, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memproduksi sel darah putih hingga 3 x lipat dalam kondisi seseorang yang sedang terserang penyakit, menguatkan tulang-tulang, menurunkan kadar gula darah ke angka yang normal, menstabilkan tekanan darah pada penderita hypertensi, memperbaiki kemampuan seks (mencegah ejakulasi dini), dan terlibat dalam proses metabolisme energi dan sintesis protein.

Osteoporosis

Dalam kajian tentang gizi dan kesehatan tulang diterbitkan oleh American College of Nutrition ditemukan korelasi positif antara magnesium dan tulang manusia. Studi ini menghasilkan fakta bahwa kekurangan magnesium dalam tubuh menyebabkan terjadinya hal-hal berikut :

  • Turunnya kekuatan tulang (tulang menjadi rapuh dan gampang patah).
  • Volume dan ukuran tulang menurun
  • Pertumbuhan tulang yang lambat
  • Lepasnya kelebihan kalsium dari tulang ke dalam darah yang tanpa disertai pembentukan tulang baru.
  • Magnesium terlibat dalam pembentukan tulang dan mempengaruhi aktivitas osteoblas dan osteoklas. Magnesium juga mempengaruhi konsentrasi dari kedua hormon paratiroid dan bentuk aktif dari vitamin D, yang merupakan regulator utama homeostasis tulang. Beberapa studi berbasis populasi telah menemukan hubungan positif antara asupan magnesium dan kepadatan mineral tulang pada pria dan wanita.
  • Penelitian lain telah menemukan bahwa wanita dengan osteoporosis memiliki tingkat serum magnesium yang lebih rendah daripada wanita dengan osteopenia dan orang-orang yang tidak memiliki osteoporosis atau osteopenia. Berbagai temuan lainnya pun menunjukkan bahwa kekurangan magnesium mungkin menjadi faktor risiko untuk osteoporosis.
  • Dalam beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan asupan magnesium dari makanan atau suplemen dapat meningkatkan kepadatan mineral tulang pada pasca menopause dan wanita lanjut usia. Satu studi jangka pendek menemukan bahwa asupan sebanyak 290 mg / hari unsur magnesium (magnesium sitrat) selama 30 hari di 20 wanita post-menopause yang juga mengidap osteoporosis, menunjukkan penurunan secara drastic tingkat kerapuhan tulang.

Depresi

  • Semua penelitian terhadap penderita depresi kronis menunjukkan bahwa orang-orang yang menderita terbukti mengalami kekurangan asupan magnesium di dalam tubuhnya. Data eksperimental dan klinis menunjukkan hubungan antara kekurangan magnesium dan depresi. Sebuah studi yang dilakukan Dr. Richard Cox dan Dr. Norman Shealy, pada tahun 1996 yang mencatat korelasi antara asupan magnesium yang rendah dan naiknya tingkat depresi, menemukan bahwa 100?ri 475 penderita deprsei kronis ternyata mengalami kekurangan kandungan magnesium di dalam tubuh mereka.
  • Sebuah penelitian yang lebih besar dan terbaru yang diterbitkan pada tahun 2009 dalam Journal Australia dan Selandia Baru Psikiatri menegaskan temuan ini. Journal ini menampilkan sampel penelitian dari 5700 orang dewasa di Norwegia. Pada journal tersebut, dari 5700 sampel, peneliti mencatat hubungan yang signifikan secara statistik antara asupan magnesium dan depresi.
  • Peserta uji yang melaporkan kebiasaan diet rendah magnesium lebih positif mengalami gejala depresi dan sering masuk ke rumah sakit yang khusus menangani kecemasan. Hasil penelitian tetap signifikan ketika disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, tekanan darah, dan status sosial dan ekonomi seseorang.
  • Korelasi antara defisiensi magnesium dan naiknya tingkat stress yang berakhir depresi telah menyebabkan peneliti dan dokter untuk menyelidiki penggunaan magnesium sebagai suplemen pengobatan yang potensial untuk penderita depresi kronis dan besar. Georgy Eby dari Eby Research Institute melaporkan beberapa studi kasus menunjukkan terjadinya pemulihan dari depresi berat yang sangat cepat jika seorang penderita diberi asupan suplemen 125 – 300 mg magnesium per hari.

DiabetesTipe 2

  • Diabetes tipe 2 (diabetes mellitus) merupakan kelainan metabolik yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi dalam konteks resistensi insulin dan defisiensi relatif terhadap insulin. Gejala klasiknya antara lain haus berlebihan, sering berkemih, dan lapar terus-menerus. Diabetes tipe 2 berjumlah 90?ri seluruh kasus diabetes dan 10% sisanya terutama merupakan diabetes melitus tipe 1 dan diabetes gestasional.
  • Kegemukan diduga merupakan penyebab utama diabetes tipe 2 pada orang yang secara genetik memiliki kecenderungan penyakit ini. Diabetes tipe 2 pada awalnya bisa diatasi dengan meningkatkan olahraga dan diet gula yang teratur. Namun jika kadar glukosa darah tidak turun melalui cara ini, pengobatan dengan metformin atau insulin mungkin diperlukan.
  • Diet yang disertai kenaikan konsumsi magnesium secara signifikan terbukti mampu mengurangi resiko terkena diabetes. Hal ini terjadi mungkin disebabkan pentingnya peranan magnesium dalam metabolisme glukosa. Hypomagnesemia (kekurangan magnesium di dalam tubuh) ditengarai dapat memperburuk resistensi terhadap insulin, suatu kondisi yang sering mendahului diabetes.
  • Pada Januari 2004, para peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Havard melaporkan korelasi yang signifikan antara asupan magnesium dan risiko diabetes tipe 2. Kekurangan asupan magnesium pada manusia menyebabkan timbulnya resiko penyakit diabetes type-2. Asupan rutin magnesium dalam nilai yang mencukupi terbukti mampu mencegah penyakit dibetes type 2. Asosiasi Diabetes Amerika (The American Diabetes Association) menyatakan bahwa ada bukti yang cukup untuk mendukung penggunaan rutin magnesium untuk meningkatkan kontrol glikemik pada penderita diabetes.
  • Pada penderita dibetes mellitus (diabetes type-2), dampak suplemen magnesium antara 150 mg – 300 mg per hari mampu menurunkan kadar gula darah dengan cepat, dan sejumlah studi telah merekomendasikan suplemen sebagai sarana meningkatkan penanganan glukosa dalam darah mereka yang didiagnosis dengan diabetes mellitus.

Hipertensi

  • Asupan magnesium yang tinggi telah terbukti mengurangi risiko penyakit hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi). Sebuah studi yang diulakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Harvard yang meneliti 30.000 pria, menemukan bahwa tingginya asupan magnesium dan serat mampu mengurangi gejala tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung dan stroke. Beberapa studi telah membuktikan bahwa suplemen magnesium mampu menurunkan tekanan darah dalam tempo yang cepat.

Kesehatan jantung

  • Penelitian pada beberapa komunitas menemukan bahwa kadar tinggi dari magnesium dalam tubuh dikaitkan dengan rendahnya resiko penyakit jantung. Studi kesehatan jantung Honolulu yang berlangsung selama 30 tahun dan diikuti oleh lebih dari 7000 pria, yang bertujuan membuktikan perbandingan tingkat konsumsi magnesium terhadap korelasi naiknya resiko penyakit jantung. Penelitian membagi 2 grup dengan 2 jenis tingkat konsumsi magnesium per hari, yaitu tingkat konsumsi di bawah 186 mg per hari dan konsumsi magnesium 340 mg per hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara peningkatan konsumsi magnesium dengan turunnya resiko penyakit jantung. Makin rendah tingkat konsumsi magnesium, makin rentan seseorang terserang penyakit jantung, sebaliknya makin tinggi tingkat konsumsi magnesium justru makin menurunkan resiko terserang penyakit jantung.
  • Asupan magnesium tinggi dapat mengurangi risiko stroke. Dalam meta-analisis dari 7 calon percobaan dengan total 241.378 peserta, asupan 100 mg / hari magnesium tambahan dalam diet dikaitkan dengan 8% penurunan resiko stroke.

Migrain Sakit kepala

  • Kekurangan magnesium terkait dengan faktor-faktor yang mendorong sakit kepala, termasuk pelepasan neurotransmiter dan vasokonstriksi. Penggunaan magnesium pada pencegahan dan pengobatan sakit kepala akut telah terbukti efektif, murah, dan aman untuk dikonsumsi. Pengujian terhadap sekelompok wanita yang mengalami migrain selama menstruasi menemukan penurunan rasa nyeri dan mulas yang signifikan jika mengkonsumsi suplemen magnesium sebanyak 360 miligram per hari.

 

Preeklamsia

  • Preeklamsia adalah penyakit hipertensi yang timbul diakibatkan kehamilan. Preeklampsia yang akut akan menimbulkan penyakit eklampsia. Pemberian asupan magnesium sulfat pada wanita hamil mampu menurunkan resiko eklampsia hingga 58%.

 

Asma dan Epilepsi

  • Magnesium dapat digunakan sebagai obat pada penderita asma dan epilepsy. Hal ini disebabkan kemampuan magnesium untuk melemaskan otot dan menurunkan ketegangan saraf.

 

  1. Interaksi Magnesium dan Obat-obatan
  • Beberapa jenis obat memiliki potensi untuk berinteraksi dengan suplemen magnesium atau mempengaruhi status magnesium di dalam tubuh, beberapa contoh kasus dituliskan di bawah ini. Orang yang memakai ini dan obat lain secara teratur harus membicarakan tata-cara asupan magnesium dengan penyedia layanan kesehatan mereka.
  • Minimal 2 jam setelah atau sesudah, apa bila di campur minum obat obatan paten, seperti antibotika dll.

 

 

III.  Dosis dan Efek Samping Magnesium

Pentingya magnesium belum begitu dikenal, sehingga kebanyakan orang masih banyak yang mengabaikan konsumsi penambahan magnesium dalam bentuk suplemen. Sebagian besar ahli gizi merekomendasikan 250 – 350 mg per hari dari suplemen magnesium untuk orang dewasa.

Efek samping dari magnesium sangat jarang, namun terlalu banyak magnesium seringkali diketahui menyebabkan diare. Karena sebagian besar efek serius hasil asupan magnesium berlebihan karena dihasilkan oleh sifat magnesium yang mengandung obat pencahar. Jika anda mendapatkan magnesium dari suplemen, ada beberapa kemungkinan efek samping seperti itu. Orang dengan penyakit ginjal dan punya riwayat tekanan darah rendah harus menghindari mengonsumsi suplemen magnesium, tanpa konsultasi dengan dokter.

 

 

Sri Suryanto

Analis Kebijakan Muda  PADK Kemkes

 

 

Tags: Kesehatan,
Responsive image
Responsive image

5 Prioritas Bidang Kesehatan dalam…

Tema kesehatan menjadi satu dari tiga tema besar…

Responsive image

Rancangan Strategis Kemenkes 2020-2024

Pertemuan Penguatan Program Kesehatan Pusat dan…

Responsive image

Cuci Tangan Pakai Sabun Cegah…

Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan…

Responsive image

Kemenkes Optimalkan PSN Cegah…

Memperingati Asean Dangue Day (ADD) 2017 15…

Responsive image

Pelantikan Jabatan Struktural…

20 Januari 2016   KEPUTUSAN…

Responsive image

Pencairan Insentif Nakes Penanganan…

Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Keuangan…

Responsive image

Rekrutmen CPNS 2020 ditiadakan

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi…

Responsive image

Kasus Positif COVID-19 Bertambah…

Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan…

Responsive image

UPDATE DATA CORONA 9 JULI 2020…

UPDATE DATA CORONA 9 JULI 2020 DI INDONESIA…

Responsive image

Menkes Terbitkan Protokol Kesehatan…

Jakarta, 2 Juli 2020 Secara bertahap pemerintah…