D’Ozone Alat Perpanjang Masa Simpan Sayur , Buah dan Ikan

D’Ozone

Alat Perpanjang Masa Simpan Sayur , Buah dan Ikan

 

Tuti Aswani

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan ragam bahan pangan hayati, termasuk di dalamnya aneka sayur dan buah. Sayur hampir sepanjang waktu dapat tumbuh, dan dapat ditemukan dengan mudah seperti; Buncis, Kacang panjang, Terong, Jipang, Daun Lembayung, Kangkung, Brokoli, Wortel, Kobis, Bunga Kol, dan yang lain. Lain halnya dengan buah-buahan, banyak yang ditentukan oleh musim walaupun banyak juga yang hampir sepanjang tahun dapat dipanen. Contoh buah yang musiman seperti buah Jeruk, Mangga, Salak, Manggis, Durian, Nangka, Sirsat. Salah satu yang menentukan kualitas buah-buahan dan sayuran adalah ketika tanaman itu dipanen saat musim.

Buah dan sayur merupakan tumbuhan yang mudah rusak. Kerusakan ini relatif tinggi terutama di negara berkembang yaitu antara 30%-50%. Kerusakan ini terjadi karena pemahaman tentang penanganan pasca panen bagi kebanyakan orang belum memadai, disamping dukungan teknologi perawatan bahan pangan nabati yang belum memungkinkan. Masih banyak ditemukan orang menjual buah-buahan dan sayuran yang hanya diletakkan begitu saja, terutama di pasar- pasar tradisionil. Kalaupun di kemas dalam wadah seperti kotak dari kayu, ataupun keranjang, namun kemasan ini hanya berfungsi sebagai wadah untuk menjaga dari benturan.

Indonesia juga negara maritim yang merupakan negara penghasil berbagai jenis ikan, justru masyarakatnya cenderung meninggalkan ikan dan menyenangi daging yang bahan baku pakan ternaknya masih diimpor. Kecenderungan ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak terutama dari pemerintah. Orientasi kebijakan ekspor ikan untuk memperoleh devisa jangan sampai menyebabkan harga ikan domestik menjadi mahal, sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat luas. Padahal peranan ikan dalam peningkatan kualitas sumberdaya sangat baik.

Kebutuhan buah, sayur dan ikan merupakan pangan untuk kebutuhan dasar yang paling essensial bagi manusia untuk mempertahankan hidup dan kehidupan. Menurut Madanijah (2004),  faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan adalah ketersediaan pangan, status sosial ekonomi meliputi pekerjaan dan pendidikan,serta sosial budaya yang meliputi pendidikan ibu, tabu, preferensi terhadap makanan, serta kebiasaan makan. Ketahanan pangan menurut Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan adalah kondisi tepenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Pangan yang dihasilkan di sentra sentra produksi harus diangkut ke pasar agar secara fisik semua konsumen mempunyai akses untuk mendapatkannya dan setelah sampai di pasar harganya harus tetap terjangkau oleh konsumen. Ilustrasi tersebut dapat mempertegas bahwa pembangunan ketahanan pangan sesungguhnya jauh lebih diutamakan jika dibandingkan dengan upaya untuk pencapaian status swasembada pangan. Setelah mampu memproduksi, maka tahap berikutnya adalah mendistribusikan bahan pangan tersebut agar tersedia bagi semua konsumen. Dengan distribusi pangan yang baik, diharapkan pangan dapat tersedia dalam jumlah yang cukup bagi masyarakat baik dari segi jumlah, mutu, dan keragamannya sepanjang waktu. Kecukupan pangan juga meliputi ketersediaan pangan secara terus menerus, merata disetiap daerah, dan terjangkau oleh daya beli masyarakat.

Dalam melakukan proses penyaluran, suatu produk/barang memerlukan lembaga-lembaga distribusi/ pemasaran yang akan menyalurkan atau menyampaikan produk atau jasa ke konsumen. Lembaga distribusi/pemasaran khusus untuk komoditas pangan akan berusaha untuk memindahkan secara cepat dengan mempertimbangkan seperti letak geografis konsumen yang menyebar dan produsen pangan yang terbatas pada wilayah-wilayah tertentu dan sifat produk yang tidak dapat disimpan terlalu lama dan mudah rusak . Buah, sayur  dan ikan merupakan bahan pangan yang bernilai gizi tinggi dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Namun, selama penyimpanan terjadi penurunan kualitas yang disebabkan oleh tumbuhnya bakteri dan mikroorganisme. Metode pengawetan yang efektif, hemat energi dan ramah lingkungan sangat dibutuhkan untuk memperpanjang masa simpan buah,  sayur dan ikan  tersebut.

Apa itu D’Ozone ?

 

Ozon merupakan suatu gas yang terbentuk dari tiga atom oksigen yang bersifat sangat reaktif dan lebih tidak stabil dibandingkan oksigen. Ozon merupakan pengoksidasi yang kuat dengan kekuatan oksidasi 6 kali kekuatan oksidasi chlorine. . Teknologi pembangkitan ozon yang paling banyak digunakan adalah teknologi lucutan plasma berpenghalang dielektrik. Penelitian menggunakan teknologi ini diantaranya telah dilakukan oleh Miyake et al.(2002) dengan elektroda kawat-bidang, kecepatan aliran air 300 mL/menit, kecepatan aliran udara 100–300 mL/menit. Hasilnya, konsentrasi ozon dan ozon terlarut dalam air meningkat pada peningkatan daya dan konsentrasi maksimal diperoleh pada kecepatan aliran udara 100 mL/menit .

D’Ozone, produk yang diciptakan oleh Dr. Muhammad Nur, DEA dari Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro hadir untuk menjadi solusi dalam memperpanjang masa simpan sekaligus menjaga kualitas buah dan sayur. Metode yang ditawarkan yaitu dengan digunakannya ozone dalam sistem penyimpanan buah dan sayur sebelum dimasukkan dalam sistem penyimpanan dingin. Selain itu, D’Ozone juga dapat digunakan dalam sistem penyimpanan bahan makanan lainnya, misalnya: beras dan ikan.
Teknologi yang digunakan pada produk ini mengadopsi sistem reaktor plasma berpenghalang dielektrik (Dielectric Barrier Discharge Plasma/DBDP) yang mampu menghasilkan ozon. Reaktor ozon dirancang untuk menghasilkan ozon dengan konsentrasi tinggi baik di udara maupun dalam air. Komponen reaktor ozon menggunakan bahan stainless steel sehingga tahan lama dan bebas  korosi, mampu membunuh serta menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur pada buah dan sayur.dan aman digunakan untuk bahan makanan. Ozon akan menghilangkan jamur, bakteri, kapang dan pestisida. Sumber pembusuk merupakan mikroorganisme yang dibawa produk mulai saat masih di pohon sampai dipanen. Caranya cukup mudah menghilangkan jamur, bakteri, kapang dan bahkan pestisida dari sayuran serta buah, cukup mencuci dengan air yang mengandung ozon dan kemudian ditiriskan dengan udara berozon. Dengan takaran tertentu, ozon dilarutkan dalam air dan kemudian digunakan untuk mencuci  buah dan sayuran. Setelah itu sayuran dan buah yang sudah dicuci dengan air berozon dikeringkan dengan udara yang mengandung ozon.

Pemakai alat ini, tidak perlu membayar apa pun, kecuali listrik karena ozon yang memiliki peran penting dalam penyimpanan didapat langsung dari alam sekitar dengan menggunakan generator. Ozon juga tidak menimbulkan sisa apa pun yang akan membahayakan lingkungan dan kesehatan. Justru air yang sudah mengandung ozon kualitasnya menjadi lebih bagus. Karena alat tersebut bisa menghilangkan pestisida yang menempel, sehingga sayuran dan buah-buahan produksinya bisa disebut organik.

Pengembangan sistem penyimpanan ikan berteknologi ozon (SPITO) untuk menjaga kualitas ikan telah dilakukan. Tempat penyimpanan atau sistem penyimpanan ikan berteknologi ozon (SPITO) dapat diterapkan di dalam kapal tangkap, penampung ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), tempat ikan yang digunakan dalam tranportasi darat, laut dan udara.

Penelitian yang dilakukan M. Nur , dkk tentang produk ozon dalam reaktor Dielektric Barier Discharge Plasma (DBDP) juga dapat dimanfaatkan untuk menjaga kualitas asam amino ikan dalam penyimpan ikan gembung ( Rastrelliger sp.) selama 12 hari. Bentuk produk D’Ozon yang sudah di produksi dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) merupakan upaya promotif dan preventif hidup sehat guna meningkatkan produktivitas penduduk dan menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan akibat penyakit. Dalam melaksanakan kampanye Germas, kementerian Kesehatan tidak bisa berjalan sendiri, namun harus melibatkan Kementerian/ Kelembagaan lain. Jika ditinjau dari Instruksi Presiden Republik Indonesia tersebut, maka peran aktif dari kementerian/ Kelembagaan yang terintegrasi dengan  program Germas ini, antara lain :

  1. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk :
  2. melakukan promosi untuk menggerakkan partisipasi kaum perempuan dalam upaya deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM); dan
  3. meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat bagi keluarga, perempuan, dan anak.
  4. Menteri Kelautan dan Perikanan untuk:
  5. meningkatkan dan memperluas pelaksanaan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) pada masyarakat; dan
  6. mengawasi mutu dan keamanan hasil perikanan.
  7. Menteri Pertanian untuk :
  8. mengawasi keamanan dan mutu pangan segar yang tidak memiliki kandungan pestisida berbahaya; dan
  9. meningkatkan produksi buah dan sayur dalam negeri dan mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayur dan buah.
  10. Menteri Perdagangan untuk : meningkatkan promosi makanan dan minuman sehat termasuk sayur dan buah produksi dalam negeri.
  11. Menteri Perhubungan untuk : mendorong konektivitas antarmoda transportasi massal termasuk penyediaan “park and ride” untuk meningkatkan aktivitas fisik masyarakat.

Kondisi masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi sayur, buah dan ikan

Rekomendasi kecukupan konsumsi buah dan sayur di Indonesia terdapat dalam tumpeng gizi seimbang yang berisi anjuran untuk mengkonsumsi buah sebanyak dua sampai tiga porsi sehari dan sayuran sebanyak tiga sampai lima porsi sehari. Pentingnya konsumsi buah dan sayur masih kurang disadari oleh penduduk Indonesia .

Menurut penelitian yang dilaksanakan oleh Retno (2002) rata – rata konsumsi sayuran anak prasekolah masih kurang dari anjuran yaitu 50,9 gram/ perkapita/hari padahal konsumsi sayur.

Padahal banyak sekali keuntungan yang diperoleh dengan membiasakan makan sayur. Keuntungan – keuntungan yang dapat diperoleh antara lain dapat memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral yang penting bagi tubuh, sebagai sumber serat yang dapat membantu mengaktifkan fungsi usus dan melacarkan pembuangan sisa - sisa pencernaan, mencegah kegemukan, dan dapat digunakan untuk sarana menambah selera makan melalui aneka warna dan rasa dari sayur tersebut pada anak prasekolah dianjurkan 75 gram perhari.

Buah merupakan sumber mineral dan vitamin yang dibutuhkan oleh anak usia prasekolah dalam masa pertumbuhan. Umumnya buah yang dipilih adalah buah yang sudah ranum (masak) dengan rasa manis dan dimakan mentah. Buah – buahan banyak mengandung vitamin bagi  tubuh. Selain itu buah – buahan juga kaya akan vitamin B kompleks dan C serta beberapa mineral seperti kalsium (Ca), kalium (K), dan lainnya. Survey awal yang dilakukan oleh Yessica Dewi (2013) pada anak prasekolah menunjukkan tujuh dari subyek hanya makan 1 sampai 2 porsi sajian buah. Secara kuantitas konsumsi buah masih tergolong kurang dari yang dianjurkan oleh WHO yaitu,untuk individu dewasa 400 gram/hari/individu atau 5 porsi sajian buah sedangkan anak – anak 240 – 320 gram/hari atau 3 sampai 4 porsi sajian buah.

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa kurangnya konsumsi buah dan sayur dapat menyebabkan penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes hipertensi, tekanan darah tinggi, dan kanker. Kematian dini dan kehidupan produktif yang hilang karena cacat, 28?ri kematian di seluruh dunia disebabkan karena rendahnya konsumsi buah dan sayur. Selain itu, tidak cukup buah dan sayur diperkirakan menyebabkan sekitar 14?ri kematian akibat kanker pencernaan, sekitar 11?ri jantung dan sekitar 9% kematian stroke.

Meskipun Indonesia juga merupakan negara maritim dengan produksi ikan yang cukup tinggi, namun kesadaran masyarakat akan konsumsi ikan itu masih rendah. Secara Nasional saja rata-rata konsumsi ikan perkapita penduduk Indonesia sebesar 30,47 kg per kapita per tahun. Angka tersebut masih di bawah Malaysia yang sebesar 55,4 kg per kapita per tahun maupun Singapura 37,9 kg per kapita per tahun.  Menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan, konsumsi ikan penduduk Indonesia per tahun kalah dari penduduk Malaysia.  Rendahnya konsumsi ikan di Indonesia sangat membutuhkan perhatian dari segenap kalangan, termasuk dari pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Diperlukan langkah-langkah yang tepat agar konsumsi ikan perkapita penduduk Indonesia dapat meningkat, salah satunya dengan merubah pola budaya masyarakat Indonesia agar mau mengkonsumsi ikan. Karena sampai saat ini ma¬sih banyak masyarakat yang belum memahami manfaat dari mengkonsumsi ikan baik untuk kesehatan dan kecerdasan otak.

Penggunaan D’Ozone untuk Gerakan Masyarakat Hidup sehat di  Indonesia

Mutu menjadi sangat penting untuk dapat mencitrakan produk tersebut seperti diinginkan oleh konsumen. Mutu dari produk yang akan dijual sangat tergantung pada kondisi produk tersebut saat penerimaan dan pengelolaan pascapanennya di pusat-pusat penjualan ritel. Terlebih lagi keharusan untuk melakukan penyimpanan untuk dapat menyediakan produk tersebut selalu ada, maka keterlibatan teknologi penanganan yang memadai harus selalu mendapatkan perhatian.

Salah satu permasalahan pada strategis dalam pembangunan ketahanan pangan adalah Distribusi, berupa pemerataan pangan antar wilayah, antar waktu dan antar golongan pendapatan masyarakat, termasuk keterjangkauan harga pangan strategis. Indonesia yang terdiri dari pulau – pulau dengan letak  geografis konsumen yang menyebar dan produsen pangan yang terbatas pada wilayah-wilayah tertentu. Tujuan kebijakan distribusi adalah untuk menjamin ketersediaan pangan sepanjang tahun secara merata dan terjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Dalam mewujudkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (germas) diantaranya adanya penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi maka diperlukan upaya mempercepat dan mensinergikan tindakan penyediaan bahan pangan masyarakat yang merata disetiap  wilayah di seluruh Indonesia. Sayur, buah dan ikan merupakan kebutuhan dasar yang paling essensial bagi manusia untuk mempertahankan hidup dan kehidupan.  Buah, sayur dan ikan merupakan bahan pangan yang bernilai gizi tinggi dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Namun, selama penyimpanan pendistribusian terjadi penurunan kualitas pada buah, sayur dan ikan yang disebabkan oleh tumbuhnya bakteri dan mikroorganisme. Metode pengawetan yang efektif, hemat energi dan ramah lingkungan dibutuhkan untuk memperpanjang masa simpan dan distribusi pangan tersebut. Proses pendinginan pada buah dan sayur dapat menghambat proses pertumbuhan bakteri dan mengurangi laju pemantangan. Namun penggunaan metode ini tidak dapat membunuh bakteri yang terdapat pada buah sayur dan ikan. Untuk menghilangkan bakteri tersebut dibutuhkan metode tertentu seperti pemanasan, High Pressure Package (HPP), radiasi ultraviolet, ultrasonik, medan listrik, iradiasi dan plasma dingin. Dengan pengembangan teknologi plasma, dapat menghasilkan ozon dan telah banyak dikembangkan dalam bidang pangan. Ozon memiliki sifat oksidator kuat yang dapat digunakan untuk membunuh bakteri pada bahan. Keunggulan teknologi ozon adalah “green technology”, karena tidak meninggalkan residu dan ozon mudah terdekomposisi menjadi oksigen .Penggunaan suhu yang tinggi merupakan salah satu penyebab ozon mudah terdekomposisi menjadi oksigen. Oleh karena itu, kombinasi penggunaan ozon dan pendinginan dapat digunakan untuk memperpanjang masa simpan buah sayur dan ikan.

Pemanfaatan teknologi D’ozon ini sangat dibutuhkan dalam penyimpanan bahan buah, sayur dan ikan lebih lama dan tanpa menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan sehingga dalam pendistribusian ke wilayah- wilayah yang sulit dengan memakan waktu lama bisa teratasi dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan buah, sayur dan ikan. Begitu juga dengan pengadaan pangan ke rumah sakit yang membutuhkan penyediaan  buah, sayur dan ikan dalam kondisi segar dan  baik  dengan “green technology” dapat menjadi solusi dalam meningkatkan kualitas gizi pada pasien.

 

 

SUMBER :

  1. Aji Prasetyaningrum, dkk, 2016, Prototype Penyimpanan Buah dan Sayur Menggunakan Ozon dan Metode Evaporative Cooling sebagai Sistem Pendingin Prototype Fruit and Vegetable Storage using Ozon and Evaporative Cooling Method as Cooling System., Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Diponegoro, Semarang.
  2. Djaeni, Achmad S. 1996. Ilmu Gizi Jilid I, Jakarta : Dian Rakyat.
  3. Yessica Dewi , 2013 , Studi Deskriptif: Persepsi dan Perilaku Makan Buah dan Sayuran pada Anak Obesitas dan Orang Tua Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya
  4. Emy R,(2012), Aspek Distribusi pada Ketahanan Pangan Masyarakat di Kabupaten Tapin,  Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Banjar Baru
  5. Gunanti Inong Retno. 2002. Hubungan Antara Pengetahuan Gizi dengan Konsumsi Sayuran, Pada Anak Sekolah Dasar.(http://www.google diakses pada 1 Januari 2019.
  6. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas)
  7. Pusat kebijakan perdagangan dalam negeri Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kerdagangan Kementerian Perdagangan, 2013, Laporan akhir analisis dinamika konsumsi pangan masyarakat Indonesia
  8. Madanijah S, 2004. Pola Konsumsi Pangan, dalam Pengantar pangan dan Gizi. Penebar Swadaya, Jakarta.
  9. Muhammad Nur, dkk, (2014), Produksi Ozon dalam Reaktor Dielectric Barrier Discharge Plasma (DBDP) terkait panjang reaktor dan laju alir udara serta pemanfaatannya untuk menjaga kualitas asam amino ikan, Program Studi Magister Ilmu Fisika, Universitas Diponegoro, Semarang.
  10. Nurjanah, dkk, 2015, Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi ikan pada wanita dewasa di Indonesia (Analysis of factors influencing the consumption of fish in Indonesian Women), Departemen Teknologi hasil perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
  11. Rejeki, A.S. 2000. Kebiasaan Makan Sayur pada Remaja Putri di Perkotaan (Kasus di SMU Suluh dan SMU Al Azhar Jakarta) (Skripsi), Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.
  12. Suprayatmi, Mira. 2008. Kebiasaan Makan Pada Anak–anak. (http://www. Parentingislami.wordpress.com), diakses 30 Januari 2019
  13. Siti Hamidah, 2015, Sayuran dan buah serta manfaatnya bagi kesehatan, Disampaikan Dalam Pengajian Jamaah Langar Mafaza, Kotagede YogyakartA, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
  14. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan
  15. Nutrition in Adolescence Issue and Challeges for The Health Sector: Geneva : WHO Press; 2005.

 

Tags: Kesehatan,
Responsive image
Responsive image

5 Prioritas Bidang Kesehatan dalam…

Tema kesehatan menjadi satu dari tiga tema besar…

Responsive image

Cuci Tangan Pakai Sabun Cegah…

Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan…

Responsive image

Rancangan Strategis Kemenkes 2020-2024

Pertemuan Penguatan Program Kesehatan Pusat dan…

Responsive image

Kemenkes Optimalkan PSN Cegah…

Memperingati Asean Dangue Day (ADD) 2017 15…

Responsive image

Pelantikan Jabatan Struktural…

20 Januari 2016   KEPUTUSAN…

Responsive image

UPDATE DATA CORONA 7 APRIL 2020…

UPDATE DATA CORONA 7 APRIL 2020 di Indonesia, tetap…

Responsive image

Tetapkan PSBB Jakarta, Ini Penjelasan…

Menteri Kesehatan menetapkan Pembatasan Sosial…

Responsive image

DKI Jakarta Terapkan PSBB

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera menerapkan…

Responsive image

PSBB

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengumumkan…

Responsive image

PRESIDEN Jokowi Resmikan Wisma…

Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan meresmikan…