Kakus Kompos Tanpa Air

Peneliti LIPI, Neni Sintawardani membuat jamban duduk yang pengoperasiannya tidak membutuhkan air. Kakus rancangan peneliti di Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI itu ditujukan sebagai fasilitas jamban untuk daerah yang kesulitan air. Produk itu juga bisa digunakan sebagai cara menghemat air dan solusi masalah kekurangan sarana sanitasi.

Inovasi composting toilet atau WC pengompos itu memanfaatkan jasa mikroba untuk mengubah kotoran. Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI Sri Priatini mengatakan jamban itu juga bisa dibangun untuk menggantikan toilet umum di tepi sungai yang limbahnya bisa mencemari air. “Teknologi ini juga bisa untuk menangani kotoran hewan” kata Sri Priatini.

Purwarupa hasil riset yang dirintis sejak 2011 kini telah dipasang di LIPI Bandung. Biaya untuk memproduksi jamban pengompos itu mencapai Rp. 15 Juta.

Jamban pengompos dengan dudukan berbentuk kotak itu tidak tersambung ke saluran bak penampungan limbah toilet (septic tank). Ada wadah penampung sendiri untuk mengolah urine dan tinja menjadi kompos.

Di sisi depan jamban ada lubang khusus untuk menampung air seni. Cairan kemudian akan dialirkan ke kotak penampungan di dalam jamban bagian bawah. Isinya bisa dikeluarkan saat wadah penuh.

Neni menganjurkan agar cairan urine itu difermentasi dengan cara didiamkan 3 – 7 hari di wadah lain. Setelah itu cairan yang dipakai untuk menyiram tanaman. Ia sudah berkonsulatasi dengan Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan air seni olahan itu halal dipakai. “Tidak apa-apa karena sudah terurai” ujarnya.

Bagian kedua di jamban itu digunakan untuk buang air besar. Di bagian bawahnya terdapat wadah berbentuk tabung berkapasitas hingga 50 liter. Tabung itu tersambung dengan rantai dan tuas pemutar.

Di dalam wadah penampung tinja itu terdapat serbuk kayu. Material ini yang menjadi media tumbuh mikroba pengompos tinja. “Bisa juga memakai bonggol jagung, sekam, arang sekam atau apapun yang termasuk ligniselulosa” kata Sri.

Lignoselulosa merupakan biomassa yang berasal dari tumbuhan. Komponen utama senyawa kimia ini adalah lignin dan selulosa.

Menurut Neni, proses pengomposan tinja tidak boleh terkena air. Karena itu, sakuran air seni dibuat khusus karena kotoran didalam jamban tidak boleh tercampur dengan urine.

Setelah menuntaskan buang air besar, para pengguna jamban ini tidak perlu menyiramnya dengan air. Mereka hanya perlu menarik tuas, lalu seisi tabung akan berputar dan teraduk. Tinjapun terbungkus serbuk-serbuk kayu. Mikroba kemudian bertugas mengolah kotoran itu menjadi kompos.

Selama periode pengolahan itu, jamban tidak mengeluarkan bau karena kotoran sudah terbungkus serbuk kayu dan terus diproses oleh mikroba pengompos. Neni mengatakan separuh isi wadah penampung bisa dikeluarkan setelah tiga bulan dan bisa dipakai sebagai pupuk tanaman. “Jangan semua isinya diambil. Perlu disisakan karena ada mikrobanya” ujarnya.

(sumber info majalah tempo)

Tags: Kesehatan,
Responsive image
Responsive image

5 Prioritas Bidang Kesehatan dalam…

Tema kesehatan menjadi satu dari tiga tema besar…

Responsive image

Cuci Tangan Pakai Sabun Cegah…

Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan…

Responsive image

Rancangan Strategis Kemenkes 2020-2024

Pertemuan Penguatan Program Kesehatan Pusat dan…

Responsive image

Kemenkes Optimalkan PSN Cegah…

Memperingati Asean Dangue Day (ADD) 2017 15…

Responsive image

Pelantikan Jabatan Struktural…

20 Januari 2016   KEPUTUSAN…

Responsive image

UPDATE DATA CORONA 7 APRIL 2020…

UPDATE DATA CORONA 7 APRIL 2020 di Indonesia, tetap…

Responsive image

Tetapkan PSBB Jakarta, Ini Penjelasan…

Menteri Kesehatan menetapkan Pembatasan Sosial…

Responsive image

DKI Jakarta Terapkan PSBB

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera menerapkan…

Responsive image

PSBB

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengumumkan…

Responsive image

PRESIDEN Jokowi Resmikan Wisma…

Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan meresmikan…